Mengenal Salicylic Acid, Kandungan Umum dalam Salep Jerawat

Memiliki kulit wajah yang berjerawat tentu terasa tidak menyenangkan. Biasanya, banyak orang menggunakan berbagai macam salep jerawat untuk menyembuhkan jerawat yang tumbuh di wajah. Salah satu jenis salep yang umum digunakan untuk mengatasi jerawat adalah salep dengan kandungan salicylic acid.

Di kalangan penggemar skin care, istilah salicylic acid tentu sudah tidak asing lagi. Kandungan ini merupakan kandungan aktif yang bekerja dengan menyerap atau mengurangi kadar minyak yang diproduksi oleh tubuh.

Jumlah minyak yang lebih sedikit akan menekan intensitas kemunclan jerawat di wajah.

Cara kerja salicylic acid dalam meredakan jerawat

Ketika pori-pori Anda tersumbat oleh gumpalan sel kulit mati dan minyak, wajah Anda lebih mudah mengalami jerawat dan komedo. Di sinilah salicylic acid berkerja dengan menyasar pori-pori.

Salicylic acid sangat ampuh digunakan pada produk-produk untuk mengatasi jerawat, termasuk salep jerawat. Kandungan ini mampu menempus pori-pori dan mendorong pelepasan sel kulit mati, sehingga pori-pori tetap bersih.

Pori-pori yang bersih akan menghambat proses pertumbuhan jerawat.

Selain mencegah kemunculan jerawat, kandungan ini juga bekerja dengan meredakan peradangan. Ketika Anda mengoleskan salep dengan kandungan ini ke jerawat yang meradang, jerawat tersebut akan lebih cepat sembuh.

Umumnya, efek dari penggunaan salicylic acid baru dapat dirasakan sepenuhnya setelah pemakaian rutin selama kurang lebih enam minggu.

Dosis salicylic acid yang aman dalam produk anti jerawat

Pada dasarnya, produk dengan kandungan salicylic acid bisa Anda dapatkan dengan mudah, baik di apotek, toko online, ataupun supermarket. Akan tetapi, setiap produk memiliki kadar kandungan yang berbeda-beda. Anda mungkin perlu memperhatikan dengan seksama jumlah kadar yang aman sebelum membelinya.

Berikut ini informasi mengenai kadar salicylic acid yang aman dalam sebuah produk anti jerawat berdasarkan tekstur kemasannya:

  • Gel jerawat: 0.5-5%, digunakan satu kali dalam sehari
  • Pelembab jerawat: 1-2%, digunakan 1-3 kali dalam sehari
  • Salep jerawat: 3-6%, digunakan sesuai kebutuhan
  • Sabun jerawat: 0.5-5%, digunakan sesuai kebutuhan
  • Perban khusus jerawat: 0.5-5%, digunakan 1-3 kali dalam sehari

Salicylic acid juga memiliki fungsi sebagai eksfoliator yang mengupas sel-sel kulit mati, bekas jerawat, dan hiperpigmentasi pada kulit. Ini menjadikan salicylic acid sebagai kandungan yang aktif dan cukup berat, sehingga pemakaiannya harus dibatasi.

Efek samping pemakaian salep jerawat dengan kandungan salicylic acid

Sebagai kandungan yang aktif, salicylic acid tidak terlepas dari resiko munculnya komplikasi atau efek samping. Secara garis besar, efek samping penggunaan kandungan ini adalah:

  • Kulit kering
  • Kulit mengelupas
  • Kulit iritasi
  • Kulit terasa geli atau terbakar

Sebagian besar efek samping penggunaan salep jerawat dengan kandungan salicylic acid tidak berbahaya. Hanya saja, efek-efek tersebut dapat terasa menganggu, khususnya bagi wanita yang sering memakai riasan dalam aktivitas sehari-hari.

Untuk mengatasi efek samping tersebut, Anda bisa menggunakan produk perawatan kulit lainnya dengan efek melembabkan. Selain itu, usahakan untuk tidak memakai salep dengan kandungan salicylic acid terlalu sering.

Dalam kasus yang cukup parah, Anda mungkin akan merasakan efek samping berupa reaksi alergi. Hal ini terjadi apabila Anda memiliki alergi terhadap kandungan ini.

Selain itu, efek samping juga bisa timbul karena adanya kombinasi dengan zat tertentu yang tidak semestinya. Beberapa produk perawatan kulit mengandung zat-zat kimia yang tidak selalu baik untuk dicampurkan dengan salicylic acid.

Apabila Anda merasakan efek samping berkepanjangan dari penggunaan salep jerawat dengan kandungan salicylic acid, segera hubungi dokter untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.

Tags: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*