Mengapa Lansia dan Anak Rentan Aneurisma Otak?

Secara umum aneurisma otak adalah kondisi di mana terdapatnya gelembung atau benjolan pada pembuluh darah di otak. Penyakit tersebut terbilang serius jika tidak ditangani sejak dini dan bisa menyebabkan pengidapnya mengalami stroke, kerusakan otak, sampai berujung pada kematian.

Merujuk pada beberapa kasus, aneurisma otak memang bisa menyerang siapa saja. Namun, jika dibandingkan dengan lansia, kelompok tersebut jauh lebih rentan terkena penyakit aneurisma jika dibandingkan dengan orang dewasa atau anak-anak.

Kondisi tersebut bisa terjadi karena aneurisma otak berkembang seiring bertambahnya usia seseorang. Jika melihat penelitian yang ada saat ini, umumnya penyakit ini lebih sering menyerang seorang yang usianya antara 35-60 tahun. Di sisi lain, jika dilihat dari gender, perempuan mengalami kecenderungan lebih rentan daripada laki-laki.

Lalu, bagaimana dengan anak-anak? Secara umum, dapat dikatakan anak-anak memiliki risiko kecil terkena aneurisma otak. Kendati kemungkinannya kecil, tetapi kondisi itu bukan berarti tanpa risiko sepenuhnya. Oleh sebab itu, bagi pembaca sekalian, utamanya yang sudah memiliki anak, perlu kiranya mengetahui gejala-gejala dari penyakit tersebut.

Sekalipun penyebabnya belum bisa dipastikan, tetapi terdapat faktor-faktor yang diyakini dapat meningkatkan risiko terkena aneurisma otak. Faktor pertama adalah penuaan. Hal ini bisa menjadi meningkatkan risiko terkena penyakit tersebut karena semakin tua atau di atas 40 tahun, dinding pembuluh darah cenderung melemah akibat tekanan darah yang melewatinya.

Selanjutnya, kebiasaan merokok dan mengkonsumsi alkohol juga bisa meningkatkan risiko. Selain itu, kondisi bawaan saat kecil juga bisa meningkatkan risiko terkena aneurisma otak, seperti gangguan jaringan ikat turunan yang bisa melemahkan pembuluh darah.

Berikutnya ada penyakit ginjal polikistik yang tidak lain adalah kelainan bisa meningkatkan tekanan darah, malformasi arteriovenous serebral yang merupakan kondisi tidak normal antara arteri dan vena pada otak, penyempitan tidak normal aorta di mana pembuluh darah besar yang bertugas mengalirkan darah penuh oksigen dari jantung dan memiliki riwayat keluarga yang mengidap aneurisma otak.

Kendati demikian, pembaca budiman bisa melakukan pencegahan dengan berbagai cara. Beberapa di antaranya adalah dengan berhenti merokok dan meminum alkohol, mengurangi makanan yang berlemak, dan menjaga kondisi tubuh dengan berolahraga secukupnya dan menjaga berat badan.

Selain hal-hal tersebut, tidak ada salahnya memeriksakan ke dokter jika anda mengalami beberapa gejala dari aneurisma otak, seperti pembesaran pupil, sakit kepala, sulit berbicara, nyeri di atas atau belakang mata, penglihatan menjadi kabur atau mengalami kelemahan dan mati rasa pada bagian wajah.

Dalam mendiagnosis atau memastikan anda terkena aneurisma otak atau tidak, biasanya dokter menjalankan serangkaian tes untuk mengidentifikasinya. Di sisi lain, tenaga medis juga akan menanyakan riwayat keluarga karena bisa saja disebabkan oleh turunan.

Namun, bila anda belum sempat memeriksakan ke dokter dan benjolan aneurisma otak sudah pecah, segeralah mencari pertolongan medis terdekat. Adapun yang perlu diperhatikan adalah ketika pembaca sudah mengalami mual-mual dan muntah.

Selanjutnya merasa leher menjadi kaku, penglihatan menjadi kabur, kehilangan keseimbangan, mudah merasakan silau, sakit kepala secara tiba-tiba, kejang, dan lain-lainnya. Kondisi yang disebutkan itu adalah gejala ketika aneurisma otak sudah pecah.

Dari artikel ini, kita dapat mengetahui bahwa lansia bisa lebih rentan terkena aneurisma otak. Sementara anak-anak sendiri terbilang kecil kemungkinannya walau tidak benar-benar bisa bebas dari penyakit tersebut.

Oleh karena itu, segerakan periksa ke dokter jika anda atau anak anda mengalami gejala-gejala aneurisma otak. Selain bentuk berjaga-jaga, hal itu juga upaya antisipasi dalam penanganan apabila terdeteksi sejak dini.

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*