Cepat Kenyang Meski Makan Sedikit, Awas Gejala Duodenitis!

Mungkin bagi beberapa orang, cepat merasa kenyang meski hanya makan sedikit adalah suatu keberkahan. Tidak perlu susah payah membatasi makan agar badan tetap langsing. 

Di sisi lain, hal itu bisa mengindikasikan gangguan pencernaan, salah satunya duodenitis. Duodenitis adalah peradangan di usus dua belas jari. Kondisi ini bisa menyerang siapa saja tanpa terkecuali. 

Duodenitis menyebabkan sakit perut atau rasa tidak nyaman. Namun pada kebanyakan kasus kondisi itu tidak akan mengakibatkan komplikasi dan mudah disembuhkan.

Penyebab duodenitis

Duodenitis paling sering disebabkan oleh infeksi bakteri Helicobacter pylori (H. pylori). Bakteri H. pylori dapat menular dari orang ke orang melalui makanan dan air minum yang telah terkontaminasi. Mikroorganisme ini juga menjadi penyebab beberapa masalah pencernaan. 

Selain itu, penyebab lain duodenitis meliputi:

  • Mengonsumsi obat-obatan tertentu dalam jangka panjang, seperti aspirin, ibuprofen, dan naproxen
  • Kebiasaan mengonsumsi alkohol (alkoholik)
  • Penyakit celiac atau sensitif terhadap gluten
  • Penyakit autoimun yang menyebabkan gastritis atrofi, termasuk refractory sprue dan enteropati autoimun (AIE)
  • Penyakit Crohn
  • Cedera traumatis pada perut atau usus kecil 
  • Herpes simpleks
  • Stres ekstrem yang disebabkan oleh operasi besar, trauma tubuh parah, atau syok
  • Menjalani terapi radiasi atau kemoterapi

Gejala

Banyak orang yang terinfeksi H. pylori pada usia muda, tapi gejalanya cenderung muncul saat dewasa. Gejalanya bisa bervariasi pada setiap orang, seperti:

  • Mual
  • Muntah
  • Perut terasa terbakar atau kram
  • Perut kembung
  • Sakit perut yang terkadang menjalar sampai ke punggung
  • Merasa kenyang setelah makan sedikit atau saat perut kosong

Beberapa orang juga menunjukkan perubahan warna feses yang menjadi sangat hitam atau terlihat berdarah, dan muntahan terlihat seperti ampas kopi. Ini bisa mengindikasikan pendarahan internal, dan harus segera mendapatkan penanganan medis. 

Duodenitis dan penyakit terkait

Duodenitis mungkin agak sulit dibedakan dengan penyakit pencernaan lain karena umumnya memiliki gejala umum yang sama, yaitu sakit perut, perut kembung, mual, dan muntah.

Salah satunya adalah gastritis atau peradangan pada lapisan perut. Keduanya memiliki banyak kemiripan, mulai dari penyebab penyakit, gejala, hingga pengobatan. 

Gastritis juga memiliki beberapa kesamaan dengan tukak lambung. Bedanya, gastritis adalah peradangan umum, sedangkan tukak lambung adalah peradangan pada lapisan lambung yang terkikis (tukak). 

Namun tukak lambung memiliki rasa sakit yang intens dan terlokalisasi, serta memiliki risiko pendarahan dan kanker yang lebih tinggi. 

Penyakit lain yang memiliki kemiripan adalah penyakit radang usus atau irritable bowel syndrome (IBD). Penyakit ini dipercaya disebabkan oleh gangguan sistem kekebalan tubuh dan faktor kombinasi dari lingkungan dan genetika. 

Bagaimana mengobati duodenitis?

Setelah dokter memeriksa gejala, diagnosa diperkuat dengan serangkaian tes seperti tes darah atau tinja, tes napas, atau endoskopi. 

Perawatan dilakukan dengan pemberian obat-obatan yang disesuaikan dengan penyebab penyakit. Dalam kasus infeksi H. pylori, dokter akan meresepkan antibiotik dan obat pengurang asam. 

Beberapa orang juga disarankan untuk mengonsumsi penghambat pompa proton (PPI) dalam jangka panjang. PPI akan memblokir sel yang menghasilkan asam. Ini membantu pasien mencegah gejala kembali datang. 

Antasida juga sering diresepkan untuk meredakan gejala sementara. Obat ini dijual bebas tanpa resep dokter. Obat pengurang asam dan PPI juga bisa didapatkan di apotek, namun penggunaannya tetap harus dibawah pengawasan dokter.

Selain obat-obatan, dokter juga akan menyarankan pasien untuk melakukan perubahan gaya hidup sehat. Ini bekerja efektif terutama pada pasien duodenitis yang dipicu oleh kebiasaan merokok dan minum alkohol. 

Jika Anda memiliki pertanyaan seputar duodenitis dan pengobatannya, konsultasikan kepada dokter di aplikasi kesehatan SehatQ.

Tags: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*