Benarkah Mengkonsumsi Daging Babi Berisiko Terserang Flu Babi?

flu babi

Jika Anda diminta untuk menyebutkan nama flu yang memiliki embel-embel jenis hewan, mungkin flu burung menjadi jenis flu yang Anda sebutkan pertama kali. Tahukah Anda bahwa terdapat juga jenis influenza lain yang disebut dengan flu babi? Memang, jenis penyakit influenza ini cenderung tidak sepopuler flu burung. Hal ini terjadi lantaran jumlah peternakan di Indonesia tidak begitu banyak dibanding dengan peternakan ayam yang dapat dengan mudah Anda temui, seperti di belakang pekarangan rumah.

Flu babi yang dalam bahasa medisnya disebut sebagai virus H1N1 adalah jenis penyakit influenza yang menyerang babi. Virus ini dapat menginfeksi hidung, tenggorokan, bahkan paru-paru. Infeksi virus babi dapat ditularkan dari hewan babi itu sendiri ke manusia melalui berbagai macam cara. Salah satu cara yang paling rentan adalah ketika seseorang menghirup tetesan (droplet) yang telah terkontaminasi virus. Di samping itu, virus babi (H1N1) juga dapat ditularkan melalui benda yang terkontaminasi, terutama pada bagian mata, hidung, dan mulut.

Lalu, bagaimana penularan virus dengan cara mengonsumsi daging babi itu sendiri? Rupanya, belum terdapat laporan bahwa virus flu babi ditularkan seperti cara tersebut. Penularan virus flu babi hanya mungkin terjadi dengan cara-cara telah disebutkan sebelumnya.

Seperti apa gejala dan penanganan virus flu babi?

Seseorang yang terserang virus flu babi akan memiliki gejala seperti yang disebutkan di bawah ini:

  • Batuk.
  • Demam dalam intensitas yang tak tentu.
  • Mengalami radang tenggorokan.
  • Merasakan hidung tersumbat maupun berair.
  • Mata akan memerah dan berair.
  • Merasakan pegal dan cenderung merasa cepat lelah.
  • Sakit kepala.
  • Mual dan muntah atau bahkan diare.

Gejala ini dapat timbul setelah 1-3 hari seseorang terinfeksi virus. Memang, gejala yang disebutkan serupa dengan gejala flu biasa. Namun, dalam beberapa kasus, flu babi dapat berisiko menyebabkan komplikasi, seperti radang paru (pneumonia), memburuknya penyakit kronis bawaan, seperti penyakit jantung atau asma, mengalami gangguan saraf, baik itu penurunan kesadaran hingga kejang, serta gagal napas.

Jika Anda merasakan gejala-gejala yang disebutkan, maka segera berkonsultasi dengan dokter mengenai kondisi yang Anda rasa. Pemeriksaan dini dapat mencegah risiko penyakit bertambah parah.

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*